Halaman

Sabtu, 29 Oktober 2011

tugas softskill (fungsi keluarga yang paling mempengaruhi kehidupan

Peranan keluarga dalam kehidupan

Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari  keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Bentuk keluarga
Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan diambil, yaitu berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas .
Berdasarkan lokasi
  • Adat utrolokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar kediamanan kaum kerabat istri;
  • Adat virilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami;
  • Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri;
  • Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri pada masa tertentu pula (bergantian);
  • Adat neolokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata tidak berkelompok bersama kaum kerabat suami maupun istri;
  • Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang suami istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu (avunculus) dari pihak suami;
  • Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan istri masing-masing hidup terpisah, dan masing-masing dari mereka juga tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri .
·         Pendidikan anak perlu mendapat perhatian dari keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan anak diawali dari pendidikan keluarga yang merupakan lembaga pendidikan yang utama dan pertama. Sebagai lembaga pendidikan yang utama dan pertama maka keluarga merupakan peletak dasar atau pundamen bagi pendidikan anak dalam mengikuti perkembangan selanjutnya. Baik atau buruknya anak dikemudian hari sangat ditentukan  oleh keluarga. Pendidikan keluarga bertujuan memberikan pembinaan dan pengaruh kepada anak tentang dasar-dasar kehidupan termasuk pengetahuan agar anak terbuka perhatiannya dalam mencintai pendidikan.
·         Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa iniserta bentuk kehidupan yang semakin mengglobal maka orang tua, guru dan masyarakat dituntut untuk mencari alternatif terhadap pembinaan dan pengembangn wawasan anak. Tri pusat pendidikan yaitu lingkungan, keluarga, masyarakat mempunyai peranan penting sebagai wadah pembinaan anak, harus kerja sama dan saling menunjang.
·         Orang tua yang mengerti akan kebutuhan anak selalu menyiapkan sarana pendidikan dan juga memberikan motivasi agar anak bersemangat untuk belajar. Pemberian motivasi membuat anak dapat percaya diri, kreatif dan berpikir jernih dan logis. Pembinaan tanpa memaksakan kehendak akan lebih bermanfaat buat kelanjutan kehidupan anak. Kebebasan keluwesan dan kepercayaan orang tua, memungkinkan munculnya kreatifitas bagi anak. Prestasi belajar yang baik akan dapat dicapai apabila tanggung jawab pendidikan tidak dilimpahkan pada guru semata, tetapi orangtua pun harus memikul tanggung jawab membuat anaknya dapat belajar dan memotifasinya setelah berada di lingkungan keluarga.
·         Prestasi belajar anak sangat ditentukan oleh cara keluarga dalam membina, menuntun, mendidik anaknya. Orang tua yang senantiasa memberikan dorongan atau motifasi belajar kepada anaknya maka anak itu akan mencapai prestasi yang memuaskan. Karena dalam belajar seorang anak memperoleh motivasi dari dalam dirinya, juga dari luar dirinya terutama dari orang tuanya atau keluarga.
·         Setiap orangtua memilki pola pembianaan yang berbeda kepada anaknya. Ada orang tua yang memberikan pembinaan yang keras, ada yang sedang dan ada juga yang terlalu lembut atau memanjakan.
·         Motivasi belajar dari luar diri anak terutama dari orang tuanya  sangat berperan untuk pencapaian prestasi seorang anak, karena orang tuanyalah yang mengatur dan mengetahui keberadaan seorang anak diluar sekolah dan setiap kebutuhan belajar anak dipenuhi oleh orang tuanya.
·         Orang tua dalam mendidik anak, khususnya di dalam rumah tangga sangatlah penting, karena di dalam rumah tangga seorang anak mula0mula memperoleh bimbingan dan pendidikan dari orang tuanya. Tugas orang tua aalah sebagai guru atau pendidik yang utama dan pertama di dalam rumah tangga dalam menumbuhkan dan mengembangkan kekuatan mental dan fisik anak.
·         Bagi orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi anaknya, akan selalu memandang anak sebagai mahluk yang berakal yang sedang timbuh dan bergairah serta selalu ingin menyelidiki dan selalu ingin mengetahui sesuatu yang ada disekelilingnya. Oleh karena itu orang tua merasa terpanggil untuk mendidik atau memberikan perhatian atau motivasi kepada anak-anaknya. Namun tidak dapat disangkal bahwa selama ini sebagian orang tua lupa dan lalai karena tidak tahu bagaimana cara melaksanakan tugas yang amat penting itu. Banyak diantara orang tua yang beranggapan bahwa kalau anak-anak sudah diserahkan kepada guru di sekolah, maka selesailah tugas mereka dalam mendidik atau memberikan perhatian terhadap pendidikan anaknya.
·         Hal tersebut sangat terkait dengan fungsi keluarga sebagaimana dikemukakan oleh Masri (1974: 44) sebagai berikut :
·         a.      Fungsi dari keluraga itu tidak hanya merupakan turunan (biologis) tetapi juga merupakan bahagian dari hidup bermasyarakat. Disini  keluarga tidak hanya bertugas  memelihara anak, tetapi juga berfungsi untuk membentuk idea, cita-cita dan sikap sosial dari anak-anak.
·         b.      Bahwa keluarga itu tidak mempunyai kewajiban untuk meletakkan dasar-dasar pendidikan, rasa keagamaan, kemauan dan rasa kesukaan kepada keindahan, kecakapan dan berekonomi dan pengetahuan penjagaan diri pada si anak.
·          
·         Sementara itu menurut Rosjidan (1996:3-4) mengemukakan bahwa terdapat delapan fungsi keluarga yaitu:
·         a)      Fungsi keagamaan
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana penanaman kaidah-kaidah ajaran  agama agar tercipta insan-insan pembangunan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
·         b)     Fungsi sosial budaya
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana persemaian  nilai-nilai luhur budaya masyarakat/bangsa yang mulia dan beradab.
·         c)      Fungsi cinta kasih
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pembinaan cinta kasih sayang serta jiwa kesetiakawanan antara anggota keluarga dan antara keluarga dengan   masyarakat lingkungannya.
·         d)     Fungsi  perlindungan
·         Untuk mendorong sebagai wahana pembinaan untuk menciptakan rasa aman, damai, nyaman, dan tentram serta keadilan sebagai cerminan hidup yang sejahtera lahir batin.
·         e)      Fungsi reproduksi
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pelaksanaan kesadaran akan pentingnya peranan reproduksi sehat dalam upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera.
·         f)       Fungsi sosialisasi
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana sosialisasi dan pendidikan murid yang ekonomi, efisien, profesional, pembinaan produktivitas, serta kemandirian dalam memenuhi kebutuhan diri dan kelurga.
·         g)     Fungsi ekonomi.
·         Untuk mendorong keluarga sebagai wahana pembentukan sikap  hidup yang ekonomi, efisien, profesional, pembinaan produktivitas, serta kemandirian dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarga.
·          
·         Dari pengertian dan uraian tentang fungsi keluarga di atas, maka semakin tampaklah tanggung jawab orang tua sebagai kepala keluarga. Sebagai orang tua atau kepala keluarga yang bertanggung jawab di dalam rumah tangga ia harus memperhatikan fungsi-fungsi keluarga yang telah dikemukakan di atas. Fungsi yang paling penting adalah perhatian akan peletakan dasar-dasar pendidikan, karena keluargalah merupakan lembaga pendidikan yang utama dan pertama pengalaman itu menjadi dasar untuk pengembangan kepribadian anak selanjutnya, sebagaimana ditegaskan oleh Siahan (1986: 2) bahwa :
·         Di dalam rumah tangga pendidikan harus dimulai, inilah sekolah yang pertama. Di sini ibu bapak sebagai guru-gurunya, maka anak-anak itu harus belajar segala pelajaran yang akan memimpinnya sepanjang hidupnya, yaitu pelajaran tentang penghormatan, penuturan, pengendalian diri dan kejujuran.
·          
·         Dengan demikian, keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Namun saat ini terkadang terdapat orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, maka ada kecenderungan fungsi ini kurang mendapatkan perhatian terutama dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya untuk memperhatikan pelajaran di rumah. Di mana terjadai suatu kecenderungan orang tua melimpahkan sepenuhnya tanggung jawab tersebut kepada lembaga pendidikan seperti di sekolah, sehingga orang tua menjadi lebih ringan untuk dapat melaksanakan segala pekerjaannya. Akan tetapi, tentu saja tidak semua orang tua yaitu ayan dan ibu sama-sama sibuk dengan pekerjaannya, pada kenyataan bahwa itulah yang paling banyak waktunya bersama-sama dengan anak. Oleh karena itu, ibulah sebenarnya yang paling besar pengaruhnya terhadap pemberian motivasi kepada anak-anaknya untuk melaksanakan aktivitas belajar di rumah. Namun tidak berarti mengambil peranan bapak sebagai kepala rumah tangga dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya.
·         Lebih jelasnya mengenai fungsi motivasi tersebut khususnya dalam aktivitas belajar, seperti yang dikemukakan oleh Sardiman (1992: 84) yaitu :
·         1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
·         2.      Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang akan dicapai.
·         3.      Menyelesaikan perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
·          
·         Dengan demikian, orang tua sebagai pendidik dan pengasuh dalam lingkungan keluarga mempunyai fungsi dan peranan yang sangat menentukan dalam menumbuhkan atau membangkitkan motivasi anak dalam melaksanakan aktivitas belajar sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.

Sabtu, 22 Oktober 2011

tugas softskill (pengalaman aktuali individu)


Pengalaman aktualisasi individu

Sekitar 14 tahun lalu saat aku berumur 4 tahun aku hidup dari apa yang bisa dibayangkan semua orang, hidup dijakarta dengan keadaan sederhana , rumah memanjang berdempetan dengan rumah yang lain,dikelilingi pemukiman yang padat. selang beberapa tahun stelah itu aku pindah dengan keluargaku dibekasi , hidup kami terbilang nyaman lah untuk ukuran standar . aku disekolahkan di TK tak jauh dari rumahku ,masa masa kecilku terbilang menyenangkan namun diriku tak terlalu ingat dengan masa kecil di TK,  setelah TK tamat lalu saya melanjutkan sekolah di SD Negeri sepanjang jaya yang berlokasi tidak jauh dari rumah , awalnya sekolah sd saya terbilang tidak layak untuk dipakai tp aku tetep semangat untuk belajar . pada akhirnya saat saya kelas 5 SD renovasi ,banyak hal yang terjadi dalam masa sekolah sd ini , yang paling aku ingat adalah saat 5x juara 2  dalam kelas , itu hal yang membanggakan buat ku. tak terasa saya pun lulus dari SD .

            lalu saya melanjutkan ke smp tapi takdir mengatakan saya bersekolah di smp swasta islam di bekasi timur ,di sekolah smp ini awal yang  membuatku memperdalam agamaku yang menjadi pondasi hidupku, tak lama kemudian setelah lulus smp saya melanjutkan ke sma ,Alhamdulillah saya berhasil masuk ke sma negeri , disinilah awal masa remaja dan pendewasaan saya , banyak cerita dan banyak kisah di sma ini , benar apa kata orang kalo masa sma itu merupakan masa masa yang paling indah hehehe. Di masa SMA inilah ketertarikan ku akan dunia it dimulai saat melihat temenku bisa menghack password fb temen aku hahaha. Tak terasa kalo saat kelulusan pun tiba , saya melanjutkan ke jenjang lebih tinggi ke universitas , ah tapi takdir mengatakan tidak dapat universitas negeri  dan saya pun memutuskan kuliah di gunadarma karena kesukaan saya menggutak ngatik program dan ingin mempelari pemprograman untuk bisa membuat software ciptaan sendiri.Dan kini saya beruntung bisa sekelas dengan teman teman ku yang baik dan mau saling berbagi satu sama lain.

Jumat, 14 Oktober 2011

tugas softskill (masalah yang terjadi di masyarakat) berjudul tawuran

Tawuran Pelajar




 


  Seolah-olah nurani tidak lagi diyakini oleh para remaja, lebih-lebih apabila melihat banyaknya tawuran pelajar akhir-akhir ini. Dengan garangnya api kebencian merasuki pelajar seperti mafia hendak menunjukkan keperkasaannya. Dan kekerasan, dianggap sebagai solusi yang paling tepat dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa memikirkan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan.
Pada saat bersamaan masyarakat hanya bisa menyaksikan kekerasan demi kekerasan terjadi dihadapan mereka. Dan seringkali mencaci perbuatan mereka tanpa berusaha mencari solusi yang bijak akan permasalahan tersebut. Memojokkan mereka dari sudut pandang negatif permasalahan yang ada. Seolah-olah seperti seorang terdakwa yang telah mendapat vonis hukum, yang dipastikan sebentar lagi akan dimasukkan kedalam penjara.
Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan sepenuhnya bahwa kesalahan itu berasal dari dalam diri atau faktor internal pelajar sendiri. Masyarakat yang peduli terhadap lingkungan remaja menjadi sangat penting untuk menciptakan suasana yang bersahabat dengan mereka. Masyarakat sering tidak peka terhadap respon yang ditimbulkan remaja. Sehingga tidak sedikit remaja mengalami semacam gejolak jiwa yang berupa agresi guna menunjukkan keberadaan mereka dalam suatu lingkungan.
Hal itu menimbulkan gejolak jiwa berupa kepenatan yang membumbung menjadi gundukan stress dan mencari sebuah pelampiasan. Hal tersebut seringkali tersalurkan dalam perbuatan negatif, berkumpul dengan sekelompok preman dan secara tidak langsung menjadi bagian dari mereka. Karena didalam kelompok barunya, mereka mendapat pengakuan sebagaimana yang selama ini tidak didapatkan dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.
Dari situlah dimulainya pembelajaran kekerasan, dilingkungan baru yang tanpa kenal akan aturan, norma, adat, dan kesusilaan. Yang berlaku adalah hukum anarkisme, kriminalisme, premanisme, rimbaisme yang kesemuanya itu selalu mengedepankan otot dari pada otak. Dan yang terjadi adalah wujud nyata mereka yaitu seorang pelajar namun substansinya adalah preman yang belajar. Itulah sekilas kenyataan akan adanya jiwa mafia dalam diri seorang pelajar yang berpotensi menimbulkan kenakalan pelajar yang terutama berupa tawuran. Sehingga tidak asing lagi hanya sekedar saling pandang dapat menimbulkan tawuran.
Sungguh ironis memang apa yang terjadi di dunia pelajar, yang sebenarnya dituntut untuk belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Dengan harapan mereka bisa berguna bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pertanyaan yang akan timbul adalah sudahkah masyarakat memperhatikan apa sebenarnya keinginan mereka sehingga mereka mencari pelampiasan-pelamapiasan yang berujung tindakan anarki? Apa penyebab mendasar yang menyebabkan mereka menjadi manusia kasar dan tak bernurani? Mengapa bisa terjadi demikian? Siapa yang harus disalahkan?
Berbagai pertanyaan itu akan senantiasa timbul dan secara tidak langsung seolah menyindir masyarakat karena sejatinya masyarakat adalah bagian dari mereka. Apabila masyarakat mau sadar sebenarnya sebagai bagian dari lingkungan yang ada disekitar mereka, seolah memaksa remaja untuk mencari solusi negatif. Hal itu dikarenakan seringnya masyarakat tidak menghargai dan menghormati mereka bahkan dengan kata lain sering menyepelekan keberadaan mereka.
Banyak keluarga yan tidak memperhatikan anaknya, banyak sekolah yang hanya terfokus terhadap kegiatan belajar mengajar saja tanpa memperhatikan sisi psikologis anak didiknya. Banyaknya masyarakat acuh tak acuh dengan keberadaan mereka. Hingga bangsa ini yang kurang memperhatikan dunia remaja.
Padahal sebenarnya para remaja hanya ingin diperhatikan, diakui, dihargai dan dihormati oleh lingkungan disekitar mereka. Banyak hal yang perlu untuk diperbaiki guna memperbaiki keadaan yang ada.
Itulah sekilas betapa pentingnya masyarakat tahu bagaimana masalah ini perlu untuk dikaji. Sehingga diharapkan masyarakat dapat meminimalisir segala bentuk potensi-potensi yang menimbukan kejadian tersebut, yang terutama sekali adalah tawuran pelajar.
Karena kita tahu bahwasanya dampak tawuran tidak hanya pada pelaku tawuran itu sendiri. Namun akan berpengaruh juga terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti rusaknya bangunan umum, kemacetan, sehingga menimbulkan proyeksi gangguan dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.

Jumat, 07 Oktober 2011

tugas softskil (masalah yang terjadi di masyarakat) berjudul mahalnya sebuah kejujuran dalam kehidupan


Mahalnya sebuah kejujuran dalam kehidupan

zaman sekarang sulit bicara soal kejujuran. Kejujuran menjadi sebuah barang mahal dan langka. Jadi, sah-sah saja ketika almarhum Kasino Warkop pernah berkata, “Jangan kelewat jujur, ntar elu ga kebagian.” Katanya, kejujuran hanya ada di masa lalu di mana banyak orang bijak yang masih bisa ditiru.
            Di kehidupan masa kini, kejujuran telah menjadi sebuah keniscayaan. Semuanya kini serba mustahil. Sebuah kejujuran justru tidak diapresiasi bahkan mendapat kehormatan tinggi. Betapa masyarakat kita kini telah kehilangan akan ruh kejujuran, dan lebih mengedepankan emosional sesaat.
            Sejak kecil kita dididik untuk bersikap jujur dan berkata benar. Karena kejujuran adalah pondasi dari sebuah kebenaran dan menjadi pedoman bagi kita dalam berprilaku secara positif.
            Bangsa ini sudah sakit karena ketidakjujuran. Kita cermati prilaku penguasa, elit politik, birokrat, penegak hukum, pengusaha hingga elemen paling kecil dalam struktur sosial di masyarakat, telah kehilangan akan ruh kejujurannya.
            Kita bisa lihat korupsi di mana-mana, dan akar dari prilaku menyimpang itu adalah ketidakjujuran. Bagaimana seseorang yang hanya pegawai golongan rendahan bisa memiliki harta melimpah.
            Demikian pula seorang aparat penegak hukum memiliki tabungan hingga ratusan miliar rupiah. Seorang pengusaha dengan mudah menguasai berbagai proyek besar milik pemerintah. Mereka menilai kejujuran sudah menjadi barang yang mustahil, dan tidak lagi begitu diperlukan di masa kini. Edan!
            Jujur tak hanya diartikan secara harfiah sebagai 'berkata benar,mengakui atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengankenyataan dan kebenaran'. Tapi juga dalam pengertian yang lebih luas, tidak berbohong, tidak menipu, tidak mencuri, tidak korupsi,tidak berbuat tindak kekerasan, tidak melakukan selingkuh, dan sejumlah `tidak' lainnya, merupakan bentuk lain dari sebuah kejujuran.
            Oleh karena itu kejujuran membutuhkan komitmen untuk pemenuhan kejujuran nya . Dalam jenis pekerjaan apapun, nilai sebuah kejujuran tak bisa ditawar-tawar lagi. Anda harus memegang teguh pada komitmen dimanapun Anda berada dan bekerja. Tidak boleh berbohong. Tidak boleh menipu. Tidak boleh merekayasa. Bagaimana Anda mau dikatakan jujur, jika hendak menjadi caleg saja harus menyogok. Bagaimana Anda
mau dikatakan jujur, jika Anda membohongi publik dengan aksi menggoreng saham, yang nilai sahamnya memang tidak sebanding dengan nilai buku perusahaan.
            Lantas, bagaimana agar nilai-nilai kejujuran dapat terus berkembang?
Kejujuran sesungguhnya dapat ditularkan. Sama seperti virus, ia dapat menyebar dengan cepat. Suri tauladan yang baik selalu berawal dari atas. Dalam psikologi, dikenal prinsip modelling. Artinya murid akan dengan mudah meniru perilaku tertentu melalui proses peniruan terhadap model. Siapa saja dapat bertindak sebagai model. Pemimpin,
orangtua, guru, orang-orang yang mempunyai banyak penggagum, ataupun orang-orang yang mempunyai pengikut. Jadi, bila pemimpinnya tidak jujur, sulit mengharapkan rakyatnya juga berlaku jujur. Jika seorang pejabat korupsi, jangan salahkan kalau bawahannya ikut-ikutan korupsi. Dan, jangan juga salahkan sang anak yang malas belajar karena asik menonton televisi, sementara sang anak melihat ibunya
asik menonton sinetron.

            Ada pendapat yang mengatakan bahwa kejujuran sulit diterapkan dalam
dunia bisnis dan politik. Pertimbangan moral dikesampingkan dan lebih mengedepankan nafsu untuk mencari untung atau kekuasaan semata. Benarkah demikian? Sebaliknya. Padahal, kejujuran akan membawa pada kelanggengan. Kepercayaan, lebih-lebih dalam dunia bisnis, membutuhkan prasyarat bernama karakter. Karakter dibangun dari dua hal utama; kejujuran dan tanggung jawab. Kejujuran berbicara tentang moralitas dan etika. Sedangkan tanggung jawab berhubungan dengan kompetensi. Di negeri ini, banyak pebisnis yang sukses dan politisi yang dikenang hingga kini karena kejujuran yang
dianutnya selama ini. Nilai-nilai yang mereka anut untuk: tidak ngembat sana-sini, tidak ngemplang, tidak sikut kanan-kiri, tidak merekayasa nilai proyek, tidak mengulur-ulur penjualan saham, atau tidak ngadalin mitra kerjanya.
            Oleh karena itu kejujuran membutuhkan pengorbanan untuk menunda
kesenangan. Meniti dan mencapai hasil sesuai dengan usaha tanpa
harus menipu. Apa enaknya, bila kesuksesan diraih dengan begitu cepat, tetapi dengan mengorbankan nilai-nilai kejujuran. Hidup tak tentram, tidurpun tak nyenyak.
            Kejujuran memerlukan kesadaran untuk paham akan batas kelemahan diri
sendiri dan tidak sungkan untuk mengaku salah. Dan juga sebaliknya, bersedia memaafkan kelemahan orang lain. Kejujuran juga berarti sadar bila tidak mampu dalam mengerjakan sesuatu. Jika kemampuan Anda mengangkat beban hanya lima kilo, jangan memaksakan Anda mengangkat hingga mencapai sepuluh kilo. Jika harga saham sesungguhnya hanya seribu perak, jangan dipaksakan dijual lima ribu perak.
            Kejujuran merupakan salah satu kunci untuk mengatasi masalah hidup
berbangsa dan bermasyarakat di negeri ini. Seperti pepatah lama Belanda yang mengatakan,” eerlijk duurt 't langst”, jujur itu langgeng. Percayalah.

SUMBER :
http://fortado-blog.blogspot.com/2009/11/mahalnya-sebuah-kejujuran-di-mata.html